Pengikut





Assalamu'alaikum... Welcome to my site

Find this blog

blog

Tampilkan postingan dengan label kisah para sahabat Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah para sahabat Nabi. Tampilkan semua postingan

Bayang - Bayang Khadijah

Senin, 16 November 2009

Ia adalah wanita yang terus hidup dalam hati suaminya sampaipun ia telah meninggal dunia. Tahun-tahun yang terus berganti tidak dapat mengikis kecintaan sang suami padanya. Panjangnya masa tidak dapat menghapus kenangan bersamanya di hati sang suami. Bahkan sang suami terus mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi. Sang suami terus mencintainya dengan kecintaan yang mendatangkan rasa cemburu dari istri yang lain, yang dinikahi sepeninggalnya. (Mazin bin Abdul Karim Al Farih  dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)


Suatu hari istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain (yakni ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebutnya.” (HR. Bukhari)
Ya, dialah Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushai. Dialah wanita yang pertama kali dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersamanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membina rumah tangga harmonis yang terbimbing dengan wahyu di Makkah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikah dengan wanita lain sehingga dia meninggal dunia.
Saat menikah, Khadijah radhiyallahu ‘anha berusia 40 tahun sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 25 tahun. Saat itu ia merupakan wanita yang paling terpandang, cantik dan sekaligus kaya. Ia menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak lain karena mulianya sifat beliau, karena tingginya kecerdasan dan indahnya kejujuran beliau. Padahal saat itu sudah banyak para pemuka dan pemimpin kaum yang hendak menikahinya.
Ia adalah wanita terbaik sepanjang masa. Ia selalu memberi semangat dan keleluasaan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari kebenaran. Ia sendiri yang menyiapkan bekal untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau menyendiri dan beribadah di gua Hira’. Seorang pun tidak akan lupa perkataannya yang masyhur yang menjadikan Nabi merasakan tenang setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali yang pertama, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih) (Mazin bin Abdul Karim Al Farih  dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)
Pun, saat suaminya menerima wahyu yang kedua berisi perintah untuk mulai berjuang mendakwahkan agama Allah dan mengajak pada tauhid, ia adalah wanita pertama yang percaya bahwa suaminya adalah utusan Allah dan kemudian menyatakan keislamannya tanpa ragu-ragu dan bimbang sedikit pun juga.
Khadijah termasuk salah satu nikmat yang Allah anugerahkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mendampingi beliau selama seperempat abad, menyayangi beliau di kala resah, melindungi beliau pada saat-saat yang kritis, menolong beliau dalam menyebarkan risalah, mendampingi beliau dalam menjalankan jihad yang berat, juga rela menyerahkan diri dan hartanya pada beliau. (Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury di dalam Sirah Nabawiyah)
Suatu kali ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau menyebut-nyebut Khadijah, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita lain selain Khadijah?!” Maka beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Khadijah itu begini dan begini.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat Ahmad pada Musnad-nya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “begini dan begini” adalah sabda beliau, “Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur, ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku, ia melapangkan aku dengan hartanya ketika semua orang mengharamkan (menghalangi) aku dan Allah memberiku rezeki berupa anak darinya.” (Mazin bin Abdul Karim Al Farih  dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)
Karenanya saudariku muslimah, jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu maka sertailah dia dalam mencintai dan menegakkan agama Allah, sertailah dia dalam suka dan dukanya. Jadilah engkau seperti Khadijah hingga engkau kelak mendapatkan apa yang ia dapatkan. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Jibril mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, inilah Khadijah yang datang sambil membawa bejana yang di dalamnya ada lauk atau makanan atau minuman. Jika dia datang, sampaikan salam kepadanya dari Rabb-nya, dan sampaikan kabar kepadanya tentang sebuah rumah di surga, yang di dalamnya tidak ada suara hiruk pikuk dan keletihan.”
Saudariku muslimah, maukah engkau menjadi Khadijah yang berikutnya?
Maraji:
  1. Rumah Tangga tanpa Problema (terjemahan dari Al Usratu bilaa Masyaakil) karya Mazin bin Abdul Karim Al Farih
  2. Sirah Nabawiyah (terj) karya Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury
  3. Al Quran dan Terjemahnya
***
Penyusun: Ummu Abdirrahman
Muroja’ah: ustadz Abu Salman
Artikel www.muslimah.or.id

Tips meminta maaf

Jumat, 06 Maret 2009

Mau buat minta maaf??
Atau males maafin orang lain??
Hmmm.... Dua - duanya gak ada yang bagus. Kalo kita tidak mau memaafkan orang lain berarti kita orang yang sangat egois. Dan kalo kita tidak mau minta maaf pada orang lain berarti kita orang yang sombong dan angkuh..
"Abis dia udah bohong sama aku!"
"Aku gak mau minta maaf sama dia!"
"Biarin aja, kehilangan satu teman seperti dia, masih banyak yang lain!"
"Aku malu minta maaf"

Ck ck ck banyak banget yah alasannya... Tapi kalo dari sisi agama, gimana sih sebenernya? Yuk di lirik sebentar

*****Filosofis Ma’af Dalam Islam*************
Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: "Setiapmanusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT". Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, sebab itu mustahil kecuali Rasulullah SAW yang ma’shum (senantiasa dalam bimbingan Allah SWT).
Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya. Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: "Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah
orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT".
Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, sebab itu mustahil kecuali Rasulullah SAW yang ma’shum (senantiasa dalam bimbingan Allah SWT). Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.


Dalam Islam, mampu memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa (muttaqin). Allah SWT berfirman: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang
lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Al-Imran: 133-134).

***********Belajar Memaafkan Dari Rasulullah*****************
Setelah pembebasan Makkah (Fardhu Makkah), dihadapan orang-orang yang selama ini gigih memusuhinya, Rasulullah berkata : "Wahai orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu sekalian apa kira-kira yang akan aku perbuat terhadapmu sekarang? Jawab mereka: "Yang baik-baik. Saudara kami yang pemurah. Sepupu kami yang pemurah."
Mendengar jawaban itu Nabi kemudian berkata: "Pergilah kamu semua, sekarang kamu sudah bebas." Begitu luruh jiwa
Nabi, karena dengan ucapan itu kepada kaum Quraisy dan kepada seluruh penduduk Makkah, beliau telah memberikan amnesty (ampunan) umum. Padahal saat itu nyata mereka tergantung hanya di ujung bibirnya dan kepada wewenangnya atas ribuan bala tentara Muslim yang bersenjata lengkap yang ada bersamanya. Mereka dapat mengikis habis penduduk Makkah dalam sekejap hanya tinggal menurut perintah dari Nabi.

Dengan pengampunan dan pemberi maaf itu, jiwa Nabi telah melampaui kebesaran yang dimilikinya, melampaui rasa dengki dan dendam di hati, menunjukkan bahwa beliau bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia.
Beliau bukan seorang tiran, yang mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. Padahal Nabi mengenal betul, kejahatan orang-orang yang diampuninya itu. Siapa-siapa di antara mereka yang berkomplot untuk membunuhnya, yang telah menganiayanya dan menganiaya para pengikutnya. Mereka melemparinya dengan kotoran bahkan dengan batu saat mengajak manusia ke jalan Allah.
Begitu pemaafnya Rasulullah sekalipun itu kepada orang yang selalu menebar permusuhan, meneror dan mengancam keselamatannya. Rasulullah
begitu pemaaf, Tuhan juga Maha mengampuni kesalahan hamba-Nya. Mengapa kita manusia biasa susah sekali memberikan kema’afan?.


***********Filosofis Maaf Dalam Islam******************
Ibnu Qudamah dalam Minhaju Qashidin menjelaskan bahwa makna memberi maaf di sini ialah sebenarnya engkau mempunyai hak, tetapi engkau melepaskannya, tidak menuntut qishash atasnya atau denda kepadanya.
Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Quran menjelaskan: Kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran alafwu yang berarti "menghapus" karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada
tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam yang membara.
Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan masih dalam tahaf "masih menahan amarah". Usahakanlah untuk menghilangkan noda-noda itu, sebab dengan begitu kita baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain.

Islam mengajak manusia untuk saling memaafkan. Dan memberikan posisi tinggi bagi pemberi maaf. Karena sifat pemaaf merupakan bagian dari akhlak yang sangat luhur, yang harus menyertai seorang Muslim yang bertakwa. Allah swt berfirman: "...Maka barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah." (Q.S.Asy-Syura : 40).

Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: "Rasulullah SAW bersabda, "wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu." (HR.Ahmad, Al-Hakim dan

Al-Baghawy).

Al-Quran memang menetapkan, bahwa seseorang yang diperlakukan secara zalim diizinkan untuk membela diri tapi bukan didasarkan balas dendam. Pembelaan diri dilakukan dengan penuh simpati seraya menunjukan perangai yang luhur, bersabar, memaafkan dan toleran. Ketika Matsah yang dibiayai hidupnya oleh Abu Bakar menyebarkan gosip yang menyangkut kehormatan putrinya Aisyah yang juga istri Nabi.
Abu Bakar bersumpah tidak akan membiayainya lagi. Tapi, Allah melarangnya sambil menganjurkan untuk memberika maaf dan berlapang dada.(Q.S. an-Nur : 22). Dari ayat ini ternyata ada tingkatan yang lebih tinggi dari alafwu (maaf), yaitu alshafhu. Kata ini pada mulanya berarti kelapangan.
Darinya dibentuk kata shafhat yang berarti lembaran atau halaman, serta mushafahat yang berarti yang berarti berjabat tangan. Seorang yang melakukan alshafhu seperti anjuran ayat diatas, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.

AlShafhu yang digambarkan dalam bentuk jabat tangan itu, menurut Al-Raghib al-Asfahaniy "lebih tinggi nilainya" dari pada memaafkan.
Dalam alshafhu dituntut untuk mampu kembali membuka lembaran baru dan menutup lembaran lama." Let’s gone be by gone (yang lalu biarlah berlalu)" bangun kembali masa depan dengan semangat yang baru. Kita selalu lupa, karena kesalahan yang telah dibuat orang lain, kita lalu melupakan semua kebaikan yang telah
dibuatnya. Untuk itu, kita juga harus memperlakukan semuanya secara seimbang.
Yang terbaik buat kita hari ini adalah bersama-sama membangun kembali dengan semangat baru, ketulusan hati dan semangat persaudaraan. Jangan ada

yang berkata: "Tiada maaf bagimu". Ahli hikmah mengatakan: Ingatlah dua hal dan lupakanlah dua hal. Lupakanlah kebaikanmu kepada orang lain dan lupakanlah kesalahan orang lain kepadamu. Wallahu a’lamu.

* Penulis adalah Dosen FS. IAIN-SU Medan, Dosen STAIS TTD, Trainer Wisata Hati MC-Leadershif Ceneter SUMUT,
Staf Divisi Kajian Shafia Institut Medan dan Sekretaris Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI-Sergai

Abu Bakar Sidiq

Kamis, 16 Oktober 2008

Sungguh Agung lelaki ini,,, Jika kudapat meniru semua tingkahnya. Rasulullah pun akan menyayangiku seperti Beliau menyayanginya Abu Bakar


Gua Tsur.

Wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar.

“Wahai Rasulullah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”. Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar” Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam kekuasaan maha, Allah”.

Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekalil ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki tampan yang kini dekat di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana semesta jadinya tanpa penerang. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Ia hanya takut, Muhamad, ya Muhamad..mereka membunuh Muhamad.

***

Berdua mereka berhadapan, dan mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dan keakraban mempesona itu bukan kebohongan. Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama. Aduhai betapa ia mencintai putra Abdullah. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Wajah di depannya yang saat itu berada nyata, meleburkan penat yang ia rasa. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya. Cinta.

Sejeda kemudian, Muhamad melabuhkan kepalanya ke pangkuan Abu Bakar. Dan seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam samudera kegembiraan yang sempurna. Tak ada yang dapat memesonakannya selama hidup kecuali saat kepala Nabi yang ummi berbantalkan kedua pahanya. Mata Rasulullah terpejam. Dengan hati-hati, seperti seorang Ibu, telapak tangan Abu Bakar, mengusap peluh di kening Rasulullah. Masih dalam senyap, Abu Bakar terus terpesona dengan sosok cinta yang tengah beristirahat diam di pangkuannya. Sebuah asa mengalun dalam hatinya”Allah, betapa ingin hamba menikmati ini selamanya”.

Nafas harum itu terhembus satu-satu, menyapa wajah Abu Bakar yang sangat dekat. Abu Bakar tersenyum, sepenuh kalbu ia menatapnya lagi. Tek jenuh, tak bosan. Dan seketika wajahnya muram. Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu purnama Madinah seperti memburu hewan buruan. Bagaimana mungkin mereka begitu keji mengganggu cucu Abdul Muthalib, yang begitu santun dan amanah. Mendung di wajah Abu Bakar belum juga surut. Sebuah kuntum azzam memekar di kedalaman hatinya, begitu semerbak.”Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan siapapun mengganggumu”.

Sunyi tetap terasa. Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Abu Bakar menyandarkan punggung di dinding gua. Rasulullah, masih saja mengalun dalam istirahatnya. Dan tiba-tiba saja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin ia tega membangunkan kekasih itu.

Abu Bakar meringis, ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi ia tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itupun pergi setelah beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa ular segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam. Rasa sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menentes mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini” suara Rasulullah memenuhi udara gua.

“Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemanapun”potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.

“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?”

“Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat”

Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibir manisnya bergerak “Mengapa engkau tidak menghindarinya?”

“Saya khawatir membangunkan engkau dari lelap”jawab Abu Bakar sendu. Sebenarnya ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah dan membuatnya terjaga.

Saat itu air mata bukan hanya milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Al Mustafa berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya. Betapa indah sebuah ukhuwah.

“Sungguh bahagia, aku memilikimu wahai putra Abu Qahafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan”. Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Al Mustafa meraih pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan asma Allah pencipta semesta, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah, seketika rasa sakit itu tak ada lagi. Abu Bakar segera menarik kakinya karena malu. Nabi masih memandangnya sayang.

“Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia indah sepertimu. Bagaimana mungkin?” nyaring hati Abu Bakar kemudian.

Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.

***

Kita pasti tahu siapa Abu Bakar. Ia adalah lelaki pertama yang memeluk Islam dan juga salah satu sahabat terdekat Rasulullah. Dari lembar sejarah, kita kenang cinta Abu Bakar kepada Al Mustafa menyemesta. Kisah tadi terjadi pada saat ia menemani Rasulullah berhijrah menuju Madinah dan harus menginap di gua Tsur selama tiga malam. Menemani Nabi untuk berhijrah adalah perjalanan penuh rintang. Ia sungguh tahu akibat yang akan digenggamnya jika misi ini gagal. Namun karena cinta yang berkelindan di kedalaman hatinya begitu besar Abu Bakar dengan sepenuh jiwa, raga dan harta, menemani sang Nabi pergi.

Dia terkenal karena teguh pendirian, berhati lembut, mempunyai iman yang kokoh dan bijaksana. Kekokohan imannya terlihat ketika Madinah kelabu karena satu kabar, Nabi yang ummi telah kembali kepada Yang Maha Tinggi. Banyak manusia terlunta dan larut dalam lara yang sempurna. Bahkan Umar murka dan tidak mempercayai kenyataan yang ada. Saat itu Abu Bakar tampil mengingatkan seluruh sahabat dan menggaungkan satu khutbah yang massyur “Ketahuilah, siapa yang menyembah Muhamad, maka ia telah meninggal dunia. Dan siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah tidak mati”.

Kepergian yang tercinta, tidak menyurutkan keimanan dalam dadanya. Ketiadaan Rasulullah. Jua tak memadamkan gebyar semangat untuk terus menegakkan pilar-pilar Islam yang telah dipancangkan. Pada saat menjabat khilafah pertama, ia dengan gigih memerangi mereka yang enggan berzakat. Tidak sempat disitu munculnya beberapa orang yang mengaku Nabi, sang khalifah juga berlaku sama yaitu mengirimkan pasukan untuk mengajak mereka kembali kepada kebenaran. Sesungguhnya pribadi Abu Bakar adalah lemah lembut, namun ketika kemungkaran berada dihadapannya, ia berlaku sangat tegas dalam memberantasnya.

Abu Bakar wafat pada usia 63 tahun, pada saat perang atas bangsa Romawi di Yarmuk berkecamuk dengan kemenangan di tangan kaum Muslim. Sebelum wafat, ia menetapkan Umar sebagai khalifah penggantinya. Jenazahnya dikebumikan di sebelah manusia yang paling dicintainya, yaitu makam Rasulullah. Hidup Abu Bakar berhenti sampai di sana, namun selanjutnya manusia yang menurut Rasulullah menjadi salah seorang yang dijamin masuk surga, terus saja mengharumkan sejarah sampai detik sekarang. Ia mencintai Nabinya melebihi dirinya sendiri. Tidakkah itu mempesona? (dari oase iman: mahabbah12@yahoo.com. *Judul asli: Cinta Abu Bakar untuk Al Mustafa, ditulis kembali sebagai hadiah untuk para sahabat yang telah menemani dalam suka maupun duka dan seluruh kader KAMMI di Bogor, mudah-mudahan ukhuwah yang telah terjalin yang dikhiasi oleh rasa mahabbah dan semangat untuk bertadhiyah bisa mengantarkan kita untuk berkumpul kembali bersama Al Mustafa di jannah-nya….).

Sahabat, mudah-mudahan setiap air mata yang menetes ketika membaca kisah agung di atas menjadi pertanda cinta kita untuk Rasulullah dan para sahabatnya dan semoga Allah menyampaikan pesan cinta tersebut kepadanya sebagaimana disampaikannya pesan cinta Khubaib kepada Rasulullah sebelum anak panah kaum Quraisy menembus dadanya di tiang salib…. Allahuma shali ‘ala sayidina Muhamad wa ‘ala ali sayidina Muhamad……jsh.

Seorang Wanita Bermaharkan Roti dan Susu

Kamis, 25 September 2008

annas menulis "Syeikh Syah Al-Karmani mempunyai seorang anak perempuan
yang sangat cantik wajahnya dan baik budi pekertinya.Seperti ayahnya yang
zuhud,soleh dan warak.Gadis jelita ini juga menghabiskan waktu hariannya hanya
untuk beribadah kepada Allah swt.Mari kita ikuti kisah kehidupan anak gadis ini
sebagai renungan bersama.

Pada siang hari dia berpuasa dan pada sebelah malamnya bangun untuk melakukan
solat tahajjud dan bermunajat sepenuhnya hanya kepada Allah swt.Sifat-sifat
terpuji yang ada pada ayahnya juga menurun pada dirinya.Dia hidup sebagai gadis
yang penyabar,penyayang dan qanaah.

Kecantikan anak perempuan Syeikh Syah ini sampai ke pengetahuan Raja Karmani
yang memerintah pada waktu itu.Maka diapun menghantar orang-orangnya untuk
merisik kesahihan yang diterimanya.

Ternyata memang benar,gadis itu memang sungguh cantik,maka dia pun meminang
puteri itu,tetapi syeikh yang alim itu tidak mahu menerima pinangan terhadap
anaknya dengan segera.Sebaliknya dia meminta masa selama tiga hari untuk
mengambil keputusan sama ada menerima atau sebaliknya.

Sepanjang tempoh tiga hari itu.Syeikh itu pergi dari satu masjid ke satu masjid
yang lain untuk meminta petunjuk dari Allah swt.Di salah satu masjid yang
dimasukinya,dia melihat seorang pemuda sedang mengerjakan solat dengan tenang
dan khusyuk.

Syeikh sangat tertarik pada pemuda itu kerana caranya beribadah sangat baik dan
pakaiannya pula sangat sederhana.Sudah tentu pemuda itu termasuk seorang yang
beriman dan faham tentang agama.

" alangkah="" berbahagianya="" kalau="" aku="" punya="" menantu="" seperti="" pemuda="" fikir="" size="3">
Syeikh.

Apabila pemuda itu selesai solat,Syeikh mendekatinya untuk berkenalan dan
bertanyakan sesuatu kepada pemuda itu.Setelah memberikan salam,Syeikh bertanya
nama dan lainnya dan bertanyakan masalah jodoh.

" Fikiranku belum sampai ke sana,tapi kalau itu memang ketentuan Allah swt,kita
tidak dapat mengelaknya." Sahut pemuda itu.

" Kalau begitu,sukakah kau beristerikan seorang perempuan solehah yang banyak
membaca Al-Quran,banyak solatnya,pada siang hari dia senantiasa berpuasa dan
pada sebelah malamnya bangun bertahajjud,bermunajat kepada Allah swt.Adapun
wajahnya,cantik juga."

" Wahai Tuan Syeikh,siapakah gerangan yang mahu berkahwin denganku yang serba
kekurangan ini ?"

" Itu semua serahkan kepadaku.Asal saja saudara minat."

" Maksud Tuan Syeikh ? "

" Ada seorang ayah yang ingin menikahkan puterinya dengan saudara."

" Siapa dia ? "

" Aku sendiri.Anak perempuanku sudah mencapai usia kahwin dan aku harap agar
saudara menerimanya."

Si pemuda diam sebentar sambil menundukkan kepalanya,kemudian berkata, " Tapi
aku tidak punya sebarang apa untuk dijadikan mahar."

" Saya tidak ingin memberatkan saudara."

" Maksud Tuan Syeikh ? "

" Saudara hanya perlu menyediakan roti sehingga satu dirham dan susu berharga
satu dirham juga.Itu saja."

Dengan bertawakal kepada Allah swt,pergilah pemuda itu mencari barang yang
diperlukannya dan apabila sudah mendapatkannya,dia datang semula kepada Syeikh
Syah.

Maka dengan tiada membuang masa,Syeikh menikahkan pemuda pilihannya dengan
puterinya yang solehah.Syeikh sangat gembira kerana telah mendapat menantu yang
sesuai dengan kehendaknya.

Kemudian Syeikh Syah menghantarkan puterinya ke rumah suami anaknya.Dengan
menundukkan kepala kerana malu,wanita solehah itu melangkah kakinya memasuki
rumah suaminya.

Sebaik sahaja masuk,tiba-tiba wanita itu berhenti melangkah dan melihat pada
sesuatu yang kurang berkenan di hatinya sebagai seorang yang tawakal.

Hal ini membuatkan suaminya hairan,tapi dia diam saja.Sebenarnya perempuan
zuhud itu melihat ada sekeping roti di rumah suaminya yang menyebabkannya
terpegun seketika.

" Benda apa ini ?" tanya perempuan itu kepada suaminya.

" Oh...ini sekeping roti," jawab si suami.

" Roti ? "

" Ya roti semalam.Sengaja aku tinggalkan untuk persediaan berbuka puasa pada
hari ini."

Tiba-tiba perempuan itu berbalik dan menuju ke arah pintu untuk
keluar,sementara suaminya terpinga-pinga.

" Hendak ke mana sayang ? " tanya si suami.

" Aku hendak balik ke rumah bapaku."

" Hendak balik ? "

" Ya."

" Memang aku sudah menyangka bahawa anak seorang Syeikh tidak akan dapat
bertahan dengan kefakiranku ini dan tidak mungkin mahu bersuamikan orang
seperti aku yang sangat miskin."

" Ketahuilah sayang,bahawa anak seorang Syeikh seperti aku ini akan keluar dari
rumah ini bukan kerana kefakiran,kemiskinan dan bukan pula kerana
kekuranganmu.Bahkan aku sudah biasa hidup dalam keadaan seperti ini."

" Jadi mengapa engkau hendak pulang ? "

" Anak Syeikh akan keluar dari rumahmu ini disebabkan terlalu tipis keimanan di
dadamu pada kekuasaan Allah swt.Walau bagaimanapun,aku tidak menyalahkan
engkau,tetapi aku kecewa akan janji ayahku."

" Apa janji ayahmu kepadamu ? "

" Ayah berkata kepadaku bahawa aku akan dikahwinkan dengan seorang lelaki yang
iffah,zuhud dan tawakal,sedangkan engkau berpegang teguh sepenuhnya kepada
Allah ? Ini terbukti engkau masih ada menyimpan sekeping roti untuk berbuka
puasa."

Mendengar itu si pemuda sangat hairan dan takjub,kerana tidak sangka setinggi
itu jangkauan wanita solehah yang baru dinikahinya.Dia yakin bahawa sudah tentu
martabat isterinya sangat tinggi di sisi-Nya.

" Kalau hanya sekeping roti itu menyebabkan engkau hendak keluar dari
rumahku,aku mohon kemaafan."

" Mohon maaf itu adalah urusanmu.Itu senang saja."

" Jadi apa pula keinginanmu wahai kekasih Allah ? "

" Aku tidak mahu tinggal di dalam rumah yang di dalamnya terdapat makanan.Aku
tidak memerlukan itu semua.Keperluanku hanya pada Allah swt semata.Sekarang
abang boleh pilih satu daripada dua."

" Apa pula itu ? "

" Keluarkan makanan itu dari rumah ini atau aku tidak masuk rumah ini buat
selamanya."

Si pemuda memilih untuk mengosongkan rumahnya dari sebarang makanan,kerana
tidak mahu isterinya meninggalkannya.Maka ketika itu juga,sekeping roti itu
dikeluarkan dan di sedekahkan kepada fakir miskin yang memerlukan.Sedangkan
berbuka puasa pada hari itu hanya bergantung kepada Allah swt.

Kemudian dibawa isterinya masuk ke dalam rumah yang telah bebas dari sebarang
makanan.Di sanalah suami isteri solehah itu hidup bahagia dan menghabiskan masa
hanya untuk beribadah kepada Allah.Radiallahhu anhum.

Begitulah kisah kehidupan orang-orang soleh yang taat kepada Allah swt.
Mereka hanya berserah dan memohon hanya kepada Allah.

Maaf..sekadar renungan kita bersama....

Kisah Seorang Wanita dengan Ubaid bin Umair

Abul Faraj dan yang lainnya menceritakan bahwa, ada seorang wanita cantik tinggal di Mekkah. Ia sudah bersuami. Suatu hari ia bercermin dan menatap wajahnya sambil bertanya kepada suaminya: “apakah menurutmu ada seorang laki-laki yang setelah melihat wajahku, ia tidak akan tergoda ?” sang suami menjawab ” Ada !” si istri bertanya lagi, “siapakah dia?” sang suami menjawab, “Ubaid bin Umair” si istri berkata kepada suaminya “ijinkan aku untuk menggodanya”. “silahkan” jawab sang suami, “aku telah mengijinkanmu”.

Maka wanita itu mendatangi Ubaid seperti layaknya orang yang sedang meminta fatwa. Kemudian si wanita membawanya ke ujung masjidil Haram dan menyingkapkan wajahnya yang bagai kilauan cahaya rembulan. Maka Ubeid berkata kepadanya, wahai hamba Allah, tutuplah wajahmu. Si wanita menjawab, “aku sudah tergoda olehmu”. Beliau menanggapi, “baik, saya akan bertanya kepadamu tentang satu hal, apabila engkau menjawabnya dengan jujur, aku akan perhatikan keinginanmu.” Si wanita menjawab, “saya akan menjawab setiap pertanyaanmu dengan jujur”

Beliau bertanya seandainya, “seandainya sekarang ini malaikat maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, apakah engkau ingin aku memenuhi keinginanmu?” si wanita menjawab, “tentu tidak” beliau berkata, “Bagus, engkau telah menjawab dengan jujur”

Beliau bertanya lagi, “seandainya engkau telah masuk kubur dan bersiap-siap untuk ditanya, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” si wanita menjawab, “tentu tidak” beliau berkata, “bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur”

Beliau bertanya lagi, “apabila manusia sedang menerima catatan amal mereka, lalu engkau tidak mengetahui apakah akan menerima dengan tangan kanan atau dengan tangaan kiri, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” si wanita menjawab, “tentu tidak” Beliau berkata, “Bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur”

Beliau bertanya lagi, “apabila engkau sedang akan melewati Ash shirat (jembatan yang terhampar diatas neraka dan ujungnya adalah surga), sementara engkau tidak tahu apakah akan selamat atau tidak, apakah engkau suka bila sekarang aku penuhi keinginanmu?” siwanita menjawab, “tentu tidak” beliau berkata, “bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur”

Beliau bertanya, “apabila telah didatangkan neraca keadilan, sementara engkau tidak mengetahui apakah timbangan amal perbuatanmu akan ringan atau berat, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” si wanita menjawab, “tentu tidak” Beliau berkata, “Bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur”

Beliau bertanya lagi, “apabila engkau sedang bersiri dihadapan Alloh untuk ditanya, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” si wanita menjawab, “tentu tidak” Beliau berkata, “Bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur”

Beliau lalu berkata, “bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh telah memberikan karuniaNya kepadamu dan telah berbuat baik kepadamu.” Ibnul Faraj berkata, “maka wanita itupun pulang kerumahnya menemui suaminya. Si suami bertanya, “apa yng telah engkau perbuat?” si istri menjawab, “sungguh engkau ini pengangguran (kurang ibadah) dan kita ini semua pengangguran.” Setelah itu si istri menjadi giat sekali menjalankan sholat, shaum dan ibadah-ibadah lain. Konon si suami sampai berkata, “apa yang terjadi antara aku dengan ubeid? Ia telah merubah istriku. Dahulu setiap malam bagi kami bagaikan malam pengantin, sekarang ia telah berubah menjadi ahli Ibadah.
 

Most Reading

Tags

curhat (40) pengetahuan (36) cerita (26) News (21) pengetahuan islam (21) karya (20) pengalaman (15) poetry (15) tips (14) wanita (10) Ulasan (8) lirik (8) kisah para sahabat Nabi (5) iseng - iseng (4) renungan (4) kesehatan (3) sekilas (2) belajar (1) download (1) muhasabah (1)